iindahpuspita

aku, kau, dan spasi di antara kita

perihal pertemuan #A

DSC08892

ketika semesta menginginkan, maka sebuah pertemuan dapat diskenariokan dalam sebuah kebetulan. kebetulan yang tidak pernah kita sadari jika semua kebetulan itu akan menjadi jalan hidup yang akan kita jalani. semua cerita ini berawal dari ketika aku dan 3 temanku melakukan perjalanan pulang dari piknik.

by the way, aku hidup di salah satu kota di sudut provinsi kalimantan barat, ketapang.  hidup merantau, keluar dari zona nyamanku untuk menafkahi keluargaku. aku tulang punggung keluarga karena Ayah tercinta sudah tidur tenang dalam pelukan semesta. Ibu, sosok yang jadi penguatku dalam menjalani hidup. Beliau dengan sepaket petuahnya yang selalu membuat aku kuat dalam menjalani hidup. kerja di kantor imigrasi membuatku harus berhubungan dengan orang banyak yang akan melakukan perjalanan lintas negara.

oke, kembali tentang pertemuan itu. iya, aku menyebutnya pertemuan yang direstui semesta. karena dengan ketidaksengajaan pertemuan ini aku banyak belajar, terutama dalam urusan menguatkan hati.

hari itu hari minggu, aku dan 3 temanku baru saja pulang dari air terjun di pedalaman kota itu. dengan keadaan jalan yang sangat tidak layak dan dalam keadaan gerimis kami mencoba melewatinya. motor trail yang kami tumpangi ternyata lebih tangguh dari yang kubanyangkan, jalanan licin dan pernuh dengan kubangan air tanah liat mampu dilewati.

tak berapa lama, dari kejauhan terlihat sekelompok orang dengan motor bebeknya berusaha melewati jalanan yang tak layak itu. jarak semakin dekat, dan Andi salah satu temanku menyapa mereka.

“kalian mau ke air terjun?”
“iya, bang”
“jalanannya becek loh, ga bakal bisa kalian melewatinya. apalagi hanya dengan motor bebek gini”
“iya parah loh jalanannya, takutnya nanti motor kalian mogok. ini hutan, bahaya kalo sampai mogok. apalagi buat cewek-cewek teman kamu ini”
” eh? berarti ga mungkin nih bang kalo lanjut?”
“iyalah, liat aja ini. pake motor gini aja butuh perjuangan. apalagi motor bebek gitu”.
“ya tapi terserahkalo mau lanjut heheh”

aku tak ikut nimbrung dalam percakapan itu, hanya menyimak saja. karena aku tahu teman-temanku sangat ahli dalam mengambil alih perbincangan dalam berbagai setuasi. yang menarik perhatianku dalam rombongan itu, ada salah satu perempuan yang kelihatannya pendiam. dia lebih banyak memperhatikan teman-temannya dalam obroloan itu, hanya sesekali melihat keadaan jalan dan mengangguk. “gadis yang manis” kataku dalam hati.

setelah basa basi sedikit lagi dengan rombongan itu kami pun melanjutkan perjalanan pulang. aku pun sudah kembali dengan obrolan “laki” kami selama perjalanan itu, bayangan tentang perempuan tadi sungguh sudah lenyap dari kepalaku. sampai salah satu temanku rian nyeletuk,

“lu ngapain diem aja tadi put?”

“putra emang gitu, kalo ketemu banyak cewek pasti diem. jaim lah, iya kan put?”

“ahahah apaan sih lu pada, kan kalian udah pada ngomong. kalo semua ngomong, yang jadi penyimak siapa. hahah”

“ah lu mah gitu, lapiiiiisss”

“hahahahha”

percakapan itu cukup sampai di situ, ah entahlah, saat itu aku pun hanya merasa biasa saja dengan segerombolan orang-orang yang kami temui tadi.

sampai hari ini tiba, aku terheran-heran. inikah rencana semesta dari pertemuan kemarin, pertemuan yang sudah ditulis. pertemuan yang menghadirkan pembelajaran berarti dalam hidupku dalam mengambil sebuah keputusan. pertemuan yang akan mengajarkanku arti sebuah pertahanan dan keyakinan 🙂

Iklan
Komentar Dinonaktifkan pada perihal pertemuan #A

Kujemput Bahagia dengan #beranilebih Asertif

Apakah dunia ibu-ibu selalu identik dengan “kompetitif”, saling membanding-bandingkan atau nyinyir tiada akhir? Hohoho, berhubung saya belum pernah bikin riset serius soal ini, well, paling tidak kita bisa lihat dari tren belakangan lah ya. Pernah dengan kalimat semacam:

“Eh, lahiran pakai caesar ya?  Tsaelahhh, takut mau lahiran normal?”

“Loh, kok anaknya dikasih sufor (susu formula) sih? Bayi saya dong, full ASI. Anak situ bayinya manusia kan? Bukan bayi sapi kan?”

“Eh, MPASI (Makanan Pendamping ASI)nya beli di minimarket ya? Ya ampuun, jadi ibu tuh enggak boleh males. Saya dong, bikin MPASI. Lebih higienis dan ekonomis.”

“Loh, punya anak bayi masih kerja full time di kantor? Nggak sayang sama bayi ya? Uuuh, istri sholihah mestinya full time mother kayak saya duooong.”

“Apa?? Anaknya ikutan homeschooling? Enggak takut jadi anti-sosial? Anakku dong, masuk di sekolah internasional. Biar dia siap think and act globally gitu…”

Errrr…. terasaaa… pernah denger di manaaaa gitu kan?…

Lihat pos aslinya 248 kata lagi

Komentar Dinonaktifkan pada Kujemput Bahagia dengan #beranilebih Asertif

Denting Dawai yang Tak Pernah Salah

Bismillahirohmaaanirrohiim

boleh kita flashback ke 3 tahun silam? tak boleh? ah biarpun kalian tak memperbolehkanku, aku akan tetap menulis :p

baiklah, saat ini, detik ini juga aku akan mulai membuka memori yang masih tersimpan jelas diingatanku. apa? kalian mau bilang aku ga bisa move on? heeyy, menyimpan suatu kenangan dalam ingatan bukan berarti aku ga move on dong, aku hanya mencoba berdamai dengan masa lalu agar aku bisa memaafkan diriku (oke, ini pembelaan). berdamai dengan masa lalu bukan berarti aku harus melupakannya, cukup hanya dengan belajar ikhlas menerima setiap ketentuan cerita yang sudah DIA tuliskan untukku. kalian tidak akan pernah bisa lupa semua hal yang terjadi pada perjalanan hidup kalian, tak akan. apalagi ketika perjalanan hidupmu kau harus mundur selangkah yang kemudian akan mengubah setiap jengkal semua perjalanan hidup yang sudah kau rencanakan setiap langkahnya. belajar berdamai, karena  tak ada yang salah dengan masa lalu, tak ada yang salah. semua sudah ditakdirkan dengan Pemilik Semesta Alam. aku menyebutnya “denting dawai yang tak pernah salah”.

aah, harus dari mana aku memulai tulisan ini. bingung. setiap kali aku mengingat peristiwa ini, air mataku tak akan pernah berhenti mengalir. ya seperti saat ini, aku tak akan bisa menghentikannya. selalu ada penyesalan, selalu ada kemarahan, selalu ada kata “seandainya”. iya itu penyesalan. apa? aku belum ikhlas menerimanya? ya, mungkin kalian benar. aku mungkin belum ikhlas, dan aku memang harus banyak belajar dengan ilmu yang namanya “ikhlas” dan “sabar”. aku harus mengakuinya. bagaimana tidak, peristiwa itu sungguh merubah perjalanan hidupku. kalian tahu rasanya jadi aku saat ini? aah kalian tidak akan pernah bisa mengerti jadi aku, tidak akan. tidak akan.

aku tidak men-judge kalian bahwa kalian tidak mengerti aku. pada kenyataannya memang demikian kan? hahahah. baiklah, aku tidak mau kita saling menyalahkan, maafkan aku 🙂

aku hanya mengutarakan bahwa kalian tidak akan pernah bisa mengerti aku, kemarahanku pada takdir, penyesalanku, kesedihanku, aahhh semua sesak yang di dada tak bisa aku deskripsikan dengan kata-kata. TAPI, apa yang bisa aku lakukan? tetap marah? tetap menyesal? tetap menangis? atau men-judge DIA atas semua yang terjadi padaku? tidak. aku tidak demikian. sungguh, walaupun aku tetap menangis dan merasakan sesak di dada ketika membongkar kembali setiap ingatan tentang peristiwa itu, aku tidak akan pernah marah (lagi), atau pun menyesal (lagi), atau yang lebih keji “men-judge DIA”. aahh na’udzubillahimindzalik. maafkan aku duhai Robbi, maafkan hambaMu yang lemah ini.

sedih? iya aku sedih 🙂 aku hanya perempuan lemah yang hanya punya DIA. DIA yang menguatkanku, DIa yang melapangkan hatiku untuk aku bisa belajar menerima dengan pemahaman yang baik, DIA yang mengirimku pada dua orang tua yang hebat, DIA yang memberiku sahabat-sahabat yang terbaik, DIA yang memberiku kekuatan untuk terus berdiri tegak diatas semua “cemoohan” untuk mereka yang “jalannya lurus” tanpa harus mundur selangkah. DIA-lah sumber kekuatanku. iya DIA Pemilik ALam Semesta, aahh aku jatuh cinta padaNya. begitu sempurna setiap rencana yang dituliskanNya untukku. aku tahu selalu ada hikmah setiap kejadian. aku yakin, ada sesuatu yang sedang menungguku di depan sana.

apa? kalian penasaran dengan peristiwa itu? hahahaha. maafkan aku yang sok misterius ini. kejadian ini tepat saat lebara ke dua tahun 2012 bulan agustus tanggal 20. iya aku pernah mengalami kecelakaan dan mengharuskan aku untuk cuti kuliah. aku ga akan pernah cerita detail kejadiannya, itu bisa mengubah hati aku untuk menyalahkan takdir (lagi). terlalu banyak kata seandainya yang akan terucap, aku ga mau itu terjadi. aku ga mau kufur nikmat. bukankah sekarang aku sudah kembali normal? 🙂

cuti kuliah. iya ini sebuah keputusan yang membuat aku harus mundur satu langkah kebelakang dari perjalanan hidup yang aku rencanakan. hari ini kampus tempat aku mengais ilmuNya sedang memwisuda (ntah ini bahasa apa, yang pasti ribuan mahasiswa sedang wisuda hari ini) mahasiswanya. aku, iya harusnya aku juga ikut ada di sana sesuai dengan rencana yang sudah aku tuliskan. aku termasuk dalam salah satu orang yang berambisi untuk selalu berprestasi dalam pendidikan. siapa sih yang ga mau selesai kuliah dengan IPK cumlaude dengan rentang waktu 3.5 tahun? siapa yang ga mau? dengan susah payah itu aku capai IP cumlaude setiap semesternya, SKS yang aku ambil selalu 24 (padettt), tapi apa daya aku yang hanya berencana dan DIA lah yang menentukan. iya itu rencanaku, impianku dulu: (lulus IPK cumlaude dalam waktu 3.5 tahun). muluk? ah aku rasa enggak, wajar toh :p

tapi sekarang, aku harus mundur selangkah. di saat teman-temanku wisuda hari ini dan september/oktober nanti, aku masih harus berada di kampus hingga maret tahun depan. iya aku sendirian. ini yang aku ga suka, sendiri. dengan kelapangan hati aku harus menerima. sesak? sedih? jangan ditanya. sekali lagi, sesering apapun aku menceritakan perasaanku, kalian ga akan pernah bisa merasakan yang aku rasakan. tidak akan 🙂

aku harus kuat. kuat menghadapi hidup yang serba sendiri, kuat menghadapi cemoohan orang-orang yang senang jika aku tertinggal darinya. aahh sudahlah. pernah suatu ketika, aku main ke salah satu kosan temanku. ya memang saat ini kamu sama-sama sedang mengerjakan skripsi, bedanya aku masih harus PPL (khusus program pendidikan yang mengerti ini) semester depan. so, biarpun skripsi aku kelar, aku tetap wisuda maret. nah saat aku main ke kosannya, dia membahas masalah wisuda, dan pernah terlontar dari mulutnya “kasian ya kamu in, ga bisa wisuda tahun ini. kamu sih pake motor kok dak hati-hati”. astaghfirullaaahh, sungguh saat itu aku cuma bisa mengucapkan satu kata “takdir” sambil senyum kecut. tidakkah dia berfikir bagaimana perasaanku saat itu? aah kalian memang tidak akan pernah bisa mengerti aku. jika harus aku mengklarifikasi, itu bukan aku yang bawa motor saat kejadian, aku hanya digonceng. tapi klarifikasi itu tidak aku lakukan, terlalu banyak salah menyalahkan yang terjadi apabila aku harus membahas itu. aku ga mau. aku harus belajar memaafkan, memaafkan diri sendiri dan kejadian masa lalu itu. biarlah, biarlah mereka mencemoohku yang tertinggal satu langkah ini.

ga cuma satu orang yang demikian, banyak. tapi sudahlah, setiap kalimat “kasihan” yang terlontar itu aku jadikan acuan. aku dengan izin DIA akan terus berjalan, ada cita-cita yang harus aku capai 🙂 bukankah life must go on? :p

ada hikmah dibalik semua ini, iya ada hikmahnya. DIA tahu apa yang hambaNya butuhkan, bukan apa yang hambaNya inginkan. inilah yang aku sebut dengan: denting dawai yang tak pernah salah. dawai yang kau petik akan tetap berbunyi, dan dentingnya tak akan pernah salah. ia akan berdenting dan mengeluarkan suara sesuai dengan “setelan” yang sudah kau atur. Do, Re, Mi, Fa, Sol, La Si, DO. tak akan pernah salah, Denting Dawai yang Tak Pernah Salah 🙂

Komentar Dinonaktifkan pada Denting Dawai yang Tak Pernah Salah

“hibernasi”

bismillaahirohmaanirrohiim

ini postingan kedua aku setelah “Aku”. dari judulnya mungkin kalian mengira aku akan membahas tentang “hibernasi” yang seperti dilakukan oleh hewan-hewan berdarah panas, beruang misalnya. tapi tidak, aku tidak akan membahas tentang “hibernasi” yang dilakukan oleh hewan-hewan itu. sengaja untuk kata “hibernasi” aku berikan tanda petik dua “”, karena di sini aku akan membahas tentang “hibernasi” yang dilakukan oleh kita sebagai manusia. “hibernasi” di sini hanya sebuah ungkapan yang aku buat untukku. ntah orang lain memahaminya seperti apa kata “hibernasi” yang sering aku ucapkan, mungkin mereka pikir “ini anak asal ngomong kali ya, dia pikir dia hewan pake hibernasi segala”. hahahah, well sebenarnya kata “hibernasi” aku tujukan pada pengertian untuk kegiatanku yang menghilang dari peredaran orang-orang sekitar di dunia maya.

sebagian mungkin membatin, “emang bisa lu menghilang? ke mana lu? lu hidup sebagai manusia sosial kali, mana bisa lu menghilang dari orang sekitar”. yaahh mungkin seperti itu, aku hanya berasumsi (semoga ini niatnya tidak membelok pada arah su’udzon, na’udzubillahimindzalik). well, “hibernasi” yang aku lakukan di sini yaitu mencoba menghilang sejenak dari hiruk pikuk kehidupan. mencoba menetralisir semua beban pikiran dengan cara traveling dengan teman-teman terbaik, membaca buku, pergi menemui orang-orang baru, yaaah melakukan kegiatan senormal mungkin yang aku bisa TANPA harus menggunakan media sosial. sekali lagi, TANPA HARUS MENGGUNAKAN MEDIA SOSIAL.

iya, hidup tanpa menggunakan media sosial. orang lain tidak perlu tahu apa yang sedang aku lakukan, apa yang aku makan, tempat seperti apa yang aku kunjungi, orang-orang yang bagaimana yang aku temui, etc. selama ini aku merasa hidupku terlalu dieksplor, orang sepertinya berhak KEPO atas semua yang terjadi pada hidupku. seakan-akan sehari tidak eksis dalam sosial media, aku merasa embuh sekali pada waktu itu. pada suatu ketika, aku mulai merasa muak dengan hiruk pikuk drama yang ada di dalamnya (drama ini lebih menyedihkan dibandingkan serial Korea ataupun film India Kuch Kuch Hota Hei). naah sejak saat itu aku putuskan untuk “hibernasi”. rehat sejenak dari hiruk pikuk ocehan dan drama yang ada dalam dunia maya. itu yang aku maksudkan pada awal tulisanku, menghilang dari peredaran orang-orang sekitar. (by the way, ngerti yang dimaksud dengan “drama” di sini??)

awalnya tidak mudah, sangat tidak mudah. selama gadget masih ada di tangan, koneksi internet masih lancar, dan kamu ga punya kesibukan, maka hati dan tanganmu akan tergelitik untuk “bangun” dari “hibernasi” yang sedang kamu lakukan. sungguh, ketika aku melakukannya ini sangatlah tidak mudah mengingat aku ini merupakan maniak dalam interaksi dunia maya. narsis, iya narsis. dalam dunia maya aku berusaha mencuri perhatian banyak orang, mengharapkan orang-orang merespon setiap postinganku. well, ini tidak baik. so poor I’m 😦

maka selama aku hibernasi, saat itu aku merasakan sesuatu yang berbeda. heeyy aku masih hidup tanpa internat (baca: eksistensi dalam dunia maya), HOREEEEYYY !! aku banyak melakukan hal-hal yang aku ga bisa lakukan saat aku masih berkecimpung dalam proses pembuatan drama di sosial media. contohnya? banyaaaakk. masak, jalan-jalan ke toko buku, nonton film, ketemu teman-teman, curhat sama Dia Sang Pemiliki Alam Semesta, fokus ngerjain revisian skripsi (oke yang satu ini sebagai motivasi), dan masih banyak lagi. dulu waktu masih ALAY dalam dunia maya, mana mungkin ini semua terjadi (walaupun ada beberapa) dengan aku nikmati bener-bener prosesnya. nonton film, misalnya. aku ga bakal fokus nonton film kalau di tangan aku masih ada gadget, telinga aku masih bisa denger suara “ping pong pung peng pang”, dan mata aku yang masih ngeliat pesan-pesan yang masuk.

naah pada waktu aku “hibernasi” aku bisa fokus melakukan semuanya, aku bisa fokus nonton film korea sampai habis serialnya. episode 1-20 pun aku jabanin sampai bisa dibilang aku maniak film sekarang (terutama korea, you know what?? emergency couples is great movie. HAHAHAHA). aku bisa kumpul sama temen-temen, menghabiskan banyak waktu dengan mereka tanpa harus fokusku terbagi-bagi antara gadget dan mereka (kebayang ga sebelnya, saat kamu lagi yang katanya “quality time” tapi ternyata satu kelompok pertemananmu itu lagi fokus sama gadgetnya). aku ga suka perhatian aku diduain, makanya aku ga mau ngeduain perhatian aku pada temen-temen aku dengan gadget. cieee gituuuu :p (aahhh gadget emang mendekatkan yang jauh, tapi juga menjauhkan yang dekat).

itu dua contoh manfaat yang aku dapatkan dari keputusanku “hibernasi”. sebenarnya masih ada satu lagi sih manfaatnya “hibernasi” (ini menurut opini versi aku, terserah kamu mau setuju apa enggak). manfaat yang lain adalah, kamu akan tau siapa orang-orang yang benar-benar membutuhkan “kehadiranmu”. orang-orang ini yang akan merasa kehilangan saat kamu tiba-tiba menghilang dari kehidupannya tanpa memberikan kabar sebelumnya, orang-orang yang KEPO atas hidup kamu, dan orang-orang yang benar-benar “membutuhkan” kamu (intinya ini orang adalah dia merasa ada yang kurang kalau kamu ga muncul dalam timeline-nya).

untuk orang-orang yang “membutuhkanmu” ini, mereka akan  “mencari” kamu bagaimanapun caranya mereka menghubungi kamu. heeyy ga ada sosial media bukan berarti kamu ga bisa dihubungi kan? yup! mereka akan sms atau telpon. aku ga tahu ini efektif apa enggak kalau dijadikan indikator sebagai pengukur “perhatian”seseorang terhadap kita. yang pasti, saat mereka sms atau telpon salah satu pertanyaan yang akan keluar adalah “kenapa sosial media kamu OFF?”. nah ketika mereka menanyakan demikian (mungkin) mereka merasa kamu “hilang” dari peredaran hidupnya. kalau orang yang cuek-cuek aja sama kehadiranmu (kasarnya, lo ada apa kagak dihidup gua itu ga ngaruh!! *oke ini terlalu kasar*) mereka tidak akan komentar apapun. sudah, hilang ya hilang. begitulah, berbeda dengan mereka yang peduli atas alasan dari jawaban “hibernasi”-nya kamu.

apakah saat aku “hibernasi” kemaren aku menemui mereka? yeesss, absolutly yeesss. I found them, love love love love you so much guys :* (peluk jauh dari kosan bidadari). saat hibernasi, aku benar-benar berusaha untuk melakukan semua sendiri, berusaha tidak minta tolong (kalau kepepet iya ini pasti, karena aku sadar aku banyak kekurangan). ga menghubungi kontak yang ada di hape aku (kecuali keluarga dan temen deket), walau hanya sekedar “say hello”. aku juga ingin tahu, seberapa penting kehadiranku di antara mereka. kalau tidak penting, dan aku sudah tidak dibutuhkan lagi mungkin saatnya aku pergiiiii jauuuuhhhh jaaauuuuhhhhh. memulai hidup baru dengan orang-orang baru yang lebih membutuhkan kehadiranku. tapi, alhamdulillaaahh masih banyak yang butuh kehadiranku. so, aku ga jadi pergi jaaauuuuhhh :p

untuk saat ini, aku sudah bangun dari “hibernasi” yang aku lakukan. akan tetapi aku akan berusaha untuk berubah jauh lebih baik dari saat aku belum “hibernasi. I know, perlahan tapi pasti. seriap perubahan itu butuh proses yang panjang, karena yang instan itu ga baik :p

untuk terakhir kalinya guys, lakukanlah “hibernasi” khususnya dari dunia maya. itu baik untuk kesehatan, selain itu kamu akan lebih dekat dengan Tuhanmu (itu kalau kamu manfaatkan “hibernasi” untuk mendekatkan diri dengan Tuhan). lupakan sejenak skenario drama yang kamu tulis dalam dunia maya, mencari perhatian tidak baik. apalagi yang berlebihan 🙂 banyak manfaat yang kamu dapatin, khususnya makna kehidupan dunia nyata. banyak orang-orang sekitar kita di dunia nyata yang membutuhkan kita. ingat dunia nyata. 

aaahh tak terasa sudah seribu lebih kata yang aku tuliskan di sini, harus ku akhiri tulisan ini. by the way, ini hanya opini dan pengalaman pribadi aku. kalau kalian yang membaca tulisan ini ga setuju silahkan, but  I’m on my way 🙂

alhamdulillaaahhh

8 Komentar »

aku

_DSC5521

aku hanyalah aku, bukan dia, bukan kamu, bukan mereka, dan bahkan bukan tentang kita. ini hanya tentang aku.

tak ada yang dapat menggantikan menjadi aku, dan tidak ada yang dapat merasakan bagaimana aku. iya hanya aku.

Komentar Dinonaktifkan pada aku

%d blogger menyukai ini: